Oleh : Drs. Zaskia Derajat
Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang
menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini
kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan
sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai
orang yang sehat atau sakit. Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari,
terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan. Meskipun
demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan
atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah
sangat sulit dicapai.
Pengertian
Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan
sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak
memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian
masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah otrang yang sehat,
dan sebagainya. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi
pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World
Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu
“keadaan yang sempurnan baik fisik[2], mental maupun sosial, tidak hanya
terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan
sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun
tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang
sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.
Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan
suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian
adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara
biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang
sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut
ada.[3]
Sudut Pandang Psikologi
tentang kesehatan
Sejak lama para ahli psikologi menduga bahwa di dalam
jiwa manusia itu terdapat perasaan, kemauan, dan akal pikiran. Heymans
mengistilahkan dengan emosionalitas, aktifitas dan fungsi skunder.
Emosionalitas bersumber dari hati, sedangkan aktifitas bersumber dari hawa
nafsu. Keduanya merupakan inti jiwa. Adapun akal merupakan kulit jiwa; karena
itu, ia disebut fungsi skunder. Muatan kekuatan ketiga macam potensi kejiwaan
ini tidak sama.
Karena itulah, menurut Heymans, ada delapan sifat dasar
manusia: Tipe amorf, adalah orang yang kurang daya pikirannya, picik, pembeo,
dan kaku dalam pergaulan. Tipe sanguinis, adalah orang yang bersikap
kekanak-kanakan namun cekatan dan berani (karena kemauannya positif). Tipe
flegmatis, adalah orang yang bersikap tenang, dapat menguasai emosi, bijaksana
serta optimis (karena kemauan dan akalnya posisitf). Tipe apatis, adalah tipe
manusia robot, sukar bergaul dan suka menyendiri tetapi pikirannya tajam (hanya
akalnya yang aktif). Tipe nerves, adalah orang yang sangat dipengaruhi emosi,
jiwanya sukar diduga, berpikir dangkal dan tidak sabar (hanya emosi yang
berkuasa). Tipe koleris, adalah orang yang punya aktivitas tinggi, lincah,
sangat perasa tetapi agak tumpul pikirannya (perasaan dan kemauan positif).
Tipe gepassioner, adalah orang yang stabil antara emosi, kemauan, dan akalnya,
berwatak garang, pemberani, perasa, pengkritik, tidak sabaran, suka curiga
tetapi tekun dan ulet dalam bekerja. Tipe sintimental, adalah orang yang
perayu, rapuh, mudah tersinggung, pencinta alam dan seni tetapi kurang ulet
(karena kemauannya kurang kuat).
Dari kedelapan tipe ini, kita dapat melihat tipe 5,
nerves adalah orang yang sangat dipengaruhi oleh emosi yang jiwanya sukar
diduga, berpikiran dangkal. Orang seperti inilah yang mudah terkena goncangan
jiwa. Mereka selalu mendengarkan suara hati tanpa pertimbangan akal sehingga
kesadarannya dapat dikalahkan oleh kekuatan bawah sadarnya. Wallahu a’lam
Dalam kaitan dengan konsepsi WHO
tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi
holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.Keempat
dimensi holistik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Agama/spiritual,
yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah
manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs),
mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang
yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral
dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without
law).
b.
Organo-biologik,
mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak),
yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang
kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai
bayi, dan setrusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia
lanjut.
c.
Psiko-edukatif,
adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk
pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan
identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui
dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.
d.
Sosial-budaya,
selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi
oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan.[4]
Sebagai kebalikan dari keadaan sehat
adalah sakit. Konsep “sakit” dalam bahasa kita terkait
dengan tiga konsep dalam bahasa Inggris, yaitu disease, illness, dan sickness.
Ketiga istilah ini mencerminkan bahwa kata “sakit” mengandung tiga pengertian
yang berdimensi psikososial. Secara khusus, disease berdimensi biologis,
illness berdimensi psikologis, dan sickness berdimensi sosiologis. (Calhoun,
dkk, 1994).
Disease penyakit berarti suatu penyimpangan yang simptomnya dikatahui melalui diagnosis. Penyakit berdimensi biologis dan obyektif. Penyakit ini bersifat independen terhadap pertimbangan-pertimbangan psikososial, dia tetap ada tanpa dipengaruhi keyakinan orang atau masyarakat terhadapnya, seperti tumor, influensa, AIDS dan lain-lain.
Disease penyakit berarti suatu penyimpangan yang simptomnya dikatahui melalui diagnosis. Penyakit berdimensi biologis dan obyektif. Penyakit ini bersifat independen terhadap pertimbangan-pertimbangan psikososial, dia tetap ada tanpa dipengaruhi keyakinan orang atau masyarakat terhadapnya, seperti tumor, influensa, AIDS dan lain-lain.
Illness adalah konsep psikologis yang
menunjuk pada perasaan, persepsi, atau pengalaman subyektif seseorang tentang
ketidaksehatannya atau keadaan tubuh yang dirasa tidak enak. Sebagai pengalama subyektif, maka illness ini bersifat individual.
Seseorang yang memiliki atau terjangkit suatu penyakit belum tentu dipersepsi
atau dirasakan sakit oleh seseorang tetapi oleh orang lain hal itu dapat
dirasakan sakit.
Sedangkan Sickness merupakan konsep sosiologis yang berakna sebagai penerimaan sosial terhadap seseorang sebagai orang yang sedang mengalami kesakitan (illness atau disease). Dalam keadaan sickness ini orang dibenarkan melepaskan tanggung jawab, peranm atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan saat sehat karena danya ketidaksehatannya.Kesakitan dalam konsep sosiologis ini berkenaan dengan peran khusus yang dilakukan sehubungan dengan perasaan kesakitannya dan sekaligus memiliki tanggung jawab baru, yaitu mencari ksembuahn.
Sedangkan Sickness merupakan konsep sosiologis yang berakna sebagai penerimaan sosial terhadap seseorang sebagai orang yang sedang mengalami kesakitan (illness atau disease). Dalam keadaan sickness ini orang dibenarkan melepaskan tanggung jawab, peranm atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan saat sehat karena danya ketidaksehatannya.Kesakitan dalam konsep sosiologis ini berkenaan dengan peran khusus yang dilakukan sehubungan dengan perasaan kesakitannya dan sekaligus memiliki tanggung jawab baru, yaitu mencari ksembuahn.
Karena pengertian “sakit” itu dapat berdimensi
subyektif-kulturalistik, maka setiap masyarakat memiliki pengertian sendiri
tentang sakit sesuai pengalaman dan kebudayaannya. Peran sakit hanya dilakukan
dan diakui oleh masyarakatnya jika sesuai dengan pertimbangan nilai, keyakinan
dan norma sosialnya.[5]
Sudut Pandang Metafisika/Fisik
Dari sudut pandang fisika dan kajian
metafisika telah dihipotesiskan bahwa “titik” hubungan antara Khalik dan
makhluk adalah bion, berupa timbunan daya (energi) yang menjadi pembawa hayat. Dugaan ini telah diungkapkan oleh dokter Paryana Suryadipura dalam
bukunya Manusia dengan Atomnys dalam Keadaan Sehat dan Sakit. Perkataan bion
itu berasal dari kata bio-ion yang artinya ion yang hidup, yang dengan
perkataan lain disebut bio-elektricitet. Dalam bahasa Sansekerta dinamakan
prana, dan dalam bahasa Arab disebut ruh.
Semua fungsi hayati dilaksanakan oleh
bion yang dilepaskan oleh badan rohani yang dikenal dengan jismul latifah, yang
dalam istilah metafisika disebut tubuh bioplasmatik. Energi
ruh itu mengalir ke dalam tubuh kasar melalui pusaran energi yang disebut
cakra.Choa Koh Sui, dalam bukunya, The Ancient Science and Art of Pranic
Healing, menjelaskan panjang lebar mengenai cakra ini; begitu pula Ric A.
Weinman dalam bukunya, Your Hands Can Heal, Learn to Channel healing Energi.
Dari kajian mereka, dapat disimpulkan, ada tujuh cakra mayor yang merupakan
kompenen utama dari tubuh elektrik manusia, yaitu cakra dasar, cakra seks,
cakra solar plexus, cakra jantung, cakra tenggorokan, cakra alis, dan cakra
mahkota.
Cakra Dasar
Cara ini merupakan cakra kelangsungan hidup yang
terletak di dasar tulang punggung. Cakra ini berfungsi mengatur keberadaan
fisik dan naluri kelangsungan hidup, karena itu rasa takut mati muncul di sini.
Cakra ini mempengaruhi kelenjar adrenal, ginjal, kandung kemih, dan semua organ
yang berkaitan dengan rasa takut. Bila hidup selalu merasa aman dan terjamin
maka cakra ini akan bercahaya terang. Akan tetapi, kalau cakra ini redup, maka
akan timbul penyakit pada fisik, di antaranya kanker, leukimia, mudah alergi,
vitalitasi rendah, lemah syahwat, anemia, dan gangguan psikologis.
Cakra Seks
Cakra ini tidak hanya bertugas membangkitkan gairah
keasmaraan tetapi juga semua bentuk hubungan intim dan emosi antarpribadi.
Cakra ini sangat berpengaruh pada ketenangan dan kedamaian perasaan yang
bertempat di atas tulang kemaluan. Jika seseorang merasa terangsang secara
seksual, banyak energi bergerak menuju dan memancar dari cakra ini. Cakra ini
juga terlibat dalam sistem reproduksi. Jika terdapat hambatan di sini, cakra
ini pada akhirnya akan mempengaruhi organ seksual, klenjar prostat, dan daerah
panggul sekitarnya.
Cakra Solar Plexus
Cakra ini merupakan pusat keinginan dan kemauan pribadi,
bertempat di daerah perut. Karena itu, stres mental, emosi dan semua
permasalahan timbul karena desakan keinginan atau kemauan, seperti frustasi,
marah, persaingan, pertahanan diri, cemas bahkan kebencian. Ketegangan yang
diakibatkan oleh hal-hal tersebut dapat mempengaruhi lambung, hati, kandung empedu,
terutama kelenjar pankreas. Maka kegagalan cakra ini dapat menimbulkan sakit
lever, kencing manis, maag, dan macam-macam penyakit yang disebabkan oleh kadar
asam urat tinggi.
Cakra Jantung
Cakra ini merupakan tempat cinta spiritual tanpa pamrih.
Cinta asmara yang emosional meluap dari cakra kedua yang beresonansi dengan
cinta spiritual. Bila cakra keempat ini terbuka, maka energinya akan
beresonansi dengan cakra yang yang lebih tinggi, dan bila ada hambatan maka
akan meluap rasa asing diri, rasa benci diri akibat trauma emosional yang
dalam. Sebaliknya cakra ini mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, dengan cara
melepaskan emosional itu. Terhadap badan fisik cakra ini mempengaruhi kelenjar
thymus yang terletak dekat cakra ini, yaitu di sekitar jantung. Cakra inilah
yang pertama-tama berhubungan dengan aspek spiritual. Kegagalan cakra ini dapat
menimbulkan sakit jantung yang berhubungan dengan peredaran darah.
Cakra Tenggorokan
Cakra ini terletak di dasar tenggorokan yang
mengendalikan kreatifitas, komunikasi, dan kemampuan waskita. Banyak para
medium yang dapat menerima berita kegaiban lalu menginformasikan melalui cakra
ini. Cakra ini mempengaruhi kelenjar tiroid dana paratiroid yang memproduksi
hormon tiroksin yang penting untuk pertumbuhan, serta melancarkan kerja susunan
saraf; juga hormon parathormon yang berfungsi merangsang pengeluaran kalsium
dari dalam tulang. Kurang berfungsinya cakra ini, dapat menimbulkan penyakit
gondok, suara serak, dan sesak napas (asma), yaitu penyakit yang menghambat kemunikasi/informasi.
Cakra Alis
Cakra yang mengendalikan pewaskitaan dan persepsi psikis
ini merupakan pintu penerima getaran dari alam gaib. Karena itu, cakra ini
dianggap sebagai “mata batin” atau “mata ketiga”. Ada juga yang memberinya
istilah “mata indera keenam”. Terhadap tubuh fisik, cakra ini mempengaruhi
kelenjar pituitary dan pineal. Kurang berfungsinya cakra ini, dapat menimbulkan
penyakit kanker, alergi, dan sebagian penyakit yang berhubungan dengan kelenjar
endokrin.
Cakra Mahkota
Cakra ini terletak di atas puncak kepala. Bila cakra ini
penuh energi, pusarannya akan membesar melingkari kepala seperti mahkota. Para
ahli metafisikan menganggap cakra ini merupakan yang tertinggi; energinya dapat
menangkap getaran intelegenci universal. Dengan cakra inilah para nabi menerima
wahyu. Energi cakra ini dapat dipakai untuk penyembuhan telepatik. Kekurangan
energi pada cakra ini dapat menyebabkan sakit gangguan jiwa.
Demikianlah fungsi cakra- cakra tersebut yang erat
hubungannya dengan jasmani dan ruhani. Dengan analisis ini, dapat terjawab
pertanyaan tentang mengapa manusia itu sakit.[6]
Dalam perspektif reiki sufistik, cakra-cakra merupakan
pintu gerbang spirtual yang harus dibersihkan dan diselaraskan agar mampu
menatik energi ilahi untuk melakukan evolusi spiritual. Setap cakra memiliki
potensi-potensi psikospirtual yang jika berkembang maka akan bermanfaat dalam
peningkatan kesehatan tubuh fisik, ketenagan (muthmainnah) tubuh psikis,
keseimbangan mental (tawazun) dan kesempurnaan spiritual (insan kamil). Praktik
reiki sufistik merupakan salah satu praktik spirtual menarik energi ilahi untuk
pembersihan dan penylelarasan cakra-cakra sebagai basis bagi peninbgkatan
kualitas manusia, baik sebagai khalifah fil ardl yang harus memiliki
ketangguhan mengelola alam maupun sebagai ‘abd (hamba) yang harus menyembah-Nya
dengan kesungguhan.
Cakra-cakra merupakan pusat aktivitas manusia.
Masing-masing cakra memilki kemampuan psikis yang luar biasa. Sebagai pusat
aktivitas manusia, cakra akan sangat menentukan pola-pola dan bentuk-bentuk
aktivitas manusia. Cakra yang bersih akan mendorong keyakinan yang lurus
(al-aqidah al-hanafiyah), Syariah yang benar (as-Syariah al-Shahihah) dan
moralitas luhur (al-akhlaqul karimah). Begitu juga sebaliknya, cakra yang kotor
akan menyebabkan manusia berperangai buruk (al-akhlaqul madzmumah). Cakra yang
bersih akan senantiasa berhubungan dengan cahaya, sebaliknya kegelapan akan
menjadi karakter manusia yang cakra-cakranya kotor, sehingga terjatuh dalam
kehidupan binatang ternak (nafsu syahwatiyyah), binatang buas (nafsu ammarah)
atau bahkan kehidupan setan (nafsu syaithaniyyah).
Di dalam reiki sufistik, istilah cakra biasa disebut dengan lathifah (sesuatu yang lembut), karena memang cakra bersifat halus (bukan organ tubuh fisik). Lathifah (organ-organ lembut) sifatnya halus dan tidak empiris.[7]
Di dalam reiki sufistik, istilah cakra biasa disebut dengan lathifah (sesuatu yang lembut), karena memang cakra bersifat halus (bukan organ tubuh fisik). Lathifah (organ-organ lembut) sifatnya halus dan tidak empiris.[7]
Di dalam tubuh manusia terdapat cakra mayor, cakra minir
dan cakra mini yang secara keseluruhan terdapat 365 cakra. Ada juga yang
menyebutkan jumlah cakra secera keseluruhan termasuk cakra-cakra yang mini
sebanyak 88.000. Tetapi cakra-cakra yang efektif mengendalikan dan memberi
energi kepada organ vital dan organ mayor tubuh manusia hanya 7 (tujuh) cakra
seperti yang telah disebut diatas, yang sering disebut sebagai cakra mayor.[8]
Sedangkan, sehat dan sakit dilihat dari sudut pandang
fisika dikatakan bahwa di Matahari, setiap terjadi letupan yang berakibat
bertambahnya tekanan elektronis di alam. Bila tekanan itu mengenai bumi, akan
timbul kegoncangan elektrostatika, sehingga lapangan magnetik teganggu,
telegram diterima dengan tidak jelas, penrimaan radio terganggu, udara bergesek
menjadi petir, udara naik dan dingin lalu jadi hujan, badai bertiup maka laut
bergelombang , dab banyak lagi akibat lain yang tidak disebutkan. Ini semua
disebabkan oleh tekanan elektron. Badai elektron yang melanggar dunia sebagai
akibat letupan di matahari dinamakan catalysmen. Badai elektron itu disebut
cylon. Tekanan elektron ini tidak hayan mempengaruhi alam, benda, tetapi juga
jiwa menusia, karena di dalam diri manusia juga ada elektron. Hal itu dapat
mengakibatkan zat colloid –yang merupakan lendir itu—menjadi beku, sehingga
kuman penyakit akan berkembang biak di atasnya.
Memang setiap orang membawa berjuta bakteri dan virus
berbagai jenis dinatas kulitnya, namun tidak semua jadi sakit karenanya. Sebab,
datangnya penyakit itu sering terjadi akibat ketidakseimbangan antara elektron
dari luar diri. Seperti, atmosfer yang lembab akan menjadi pengantar listrik
yang dapat mengambil banyak elektron dari permukaan kulit, yang akan
menimbulkan kegoncangan pada keseimbangan daya listrik pada kulit/organ tubuh,
terutama otot. Akibatnya, timbul penyakit reumatik. Melalui kaki basah,
seseorang dapat kehilangan elektron sehingga menimbulkan penyakit, misalnya
penyakit nephritis dan cytitis.Bagaimana mengupayakan agar energi yang mengalir
di dalam saraf yang halus itu berjalan dengan ukuran tekanan yang normal?
Bagaimana jalan yang telah ditemukan tinggal memilih mana yang lebih tepat
untuk diri kita maisng-masing.[9]
B. Sudut Pandang Biologi
Kita sudah mengetahui bahkan akal pikiran dan emosi
menusia selalu berubah-ubah dari hari ke hari, dari jam ke jam, malah dari
menit ke menit. Hari ini seseorang merasa berduka yang dalam, tapi esoknya ia
sudah senang, gembira, tapi satu jam berikutnya ia sudah optimis malah ada yang
patah semangat. Apa penyebab semua perubahan ini?
Tidak lain karena terjadi perubahan hormon yang
merupakan unsur dasar dalam harmonisasi kesadaran dan perasaan hati manusia.
Penyakit gila[10] –sering dianggap akibat kelainan jiwa atau gangguan
saraf—disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. Kadangb
kekurangan atau kelebihan hormon, misalnya kekuarangan adrenalin dan kelebihan
noradrenalin, kekuarang hormon yang diproduksi kelenjar seks, mungkin pula
kelenjar hypopise atau epifise yang gagal, bisa terjadi perubahan tingkah laku
atau kelainan fisik. Ada jenis hormon lain yang dikeluarkan oleh adrenal
–disebut kortizon— yang berfungsi mempersiapkan tubuh untuk melawan kelesuan.
Kalau hormon ini tidak diproduksi, seseorang akan merasa tererangkap dalam
kelesuan yang berkepanjangan dan tidak dapat diatasinya. Kalau diusut, mengapa
kelenjar ini bisa gagal? Tidak lain karena kelenjar ini terlalu letih bekerja.
Misalnya, jika tubuh kita mendapat tekanan dalam jangka waktu yang lama, maka
kelenjar adrenal mendapat tugas yang berat memproduksi kebutuhan tubuh yang
mendesak ini; lama kelamaan ia menjadi cape dan gagal. Apabila kelenjar ini
gagal melaksanakan tugasnya, hidup menusia akan terancam bahaya, yang berarti
malapetaka akan mengintai.
Kalau kita usut lagi, siapa pula ang megontrol pekerjaan
kelenjar ini? Yang mengntrol ini adalah sifat keturunan yang terdapat di dalam
gen yang ada dalam sel. Sel sebagai satuan hidup dasar makhluk hidup terdiri
atas sitoplasma yang di tengah-tengahnya terdapat sel initi. Inti sel ini
mengandung suatu jaringan dan pada jaringan inilah terdapat “gen” (pembawa
sifat keturunan). Gen-gen terdapat dalam persenyawaan kimia yang stabil:
disiniulah tersimpannya “rahasia kehidupan yang penuh misteri”. Persenyawaan
kimia gen ini merupakan disket yang didalamnya telah terpogram sifat bawaan
manusia, apakah ia pengecut, pemberani, berhati mulia, berandalan, kuat atau
lemah. Persenyawaan kimia ini dinamai Deoxrybo Nucleat Acid (DNA).
Sifat berani ditimbulkan oleh kadar hormon noradrenalin
yang tinggi dengan sedikit adrenalin; sifat penakut adalah kebalikannya. Tinggi
rendahnya kadar hormon ini bergantung pada perintah yang dikeluarkan oleh sifat
keturuan dan jenis DNA yang terdapat dalam inti sel. Molekul-molekul DNA ini
tersusun dari gula, asam fosfor, dan empat macam jenis basa: adenin, sitosin,
guanin dan tiamin. Kempatnyua tersususn dalam dua buah pita berbentuk spiral.
Pita-pita itu sendiri terbuat dari gula dan fosfor lalu basa tadi terlekat di
sana. Jadi, bagian terkecil dalam tubuh kita adalah molekul DNA yang
menghasilkan eplika dirinya. DNA memulai prosesnya dengan membuka resleting
tubuhnya.
Semua jaringan hidup tersebut terbuat dari asam amino
yang membentuk protein. Protein merupakan kombinasi dari kira-kira dua puluh
asam amino; perbedaan-perbedaan jenis protein itu hanyalah perupakan perbedaan
kombinasi yang diuntai dalam susunan tertentu. DNA-lah yang menentukan susunan
itu.
Jadi, cakra-caka tertentu merupakan distributor-distributor
tubuh rohani yang bertugas mendistribusikan energi untuk kelenjar tertentu di
tubuh fisik. Kelenjar bekerja untuk memproduksi hormon di bawah kontrol gen. Di
dalam gen terdapat persenyawaan kimia yang stabil yang dinamai DNA. Jadi hidup
kita secara keseluruhan adalah hasil dari proses kimia belaka.[11]
Para Penguasa di Kerajaan Tubuh
Kalau dalam tubuh manusia terjadi
keadaan yang tidak normal –-seperti cebol—pertumbuhan melebihi normal, atau
seorang perempuan tiba-tiba menjadi gemuk, cepat menjadi tua, gerak-geriknya
yang nervous, dagu seorang perempuan ditumbuhi jenggot atau tanda
kelaki-lakian, itu menunjukkan adanya ketidaknormalan proses kimia tubuh atau
produksi hormon tertentu yang tidak normal karena kegagalan kelenjar.
Akhir-akhir ini, para ahli telah berhasil menemukan berjenis-jenis kelenjar hormon yang terdapat dalam tubuh manusia. Kelenjar-kelenjar hormon ini memproduksi hormon yaitu zat khusus yang merupakan persenyawaan kimia hasil produksi kelenjar tubuh yang berfungsi mengatur berbagai proses kimia jaringan organ tubuh. Di antara sekian banyak kelenjar di dalam tubuh manusia, ada tujuh yang utama, yaitu sebagai berikut:
Akhir-akhir ini, para ahli telah berhasil menemukan berjenis-jenis kelenjar hormon yang terdapat dalam tubuh manusia. Kelenjar-kelenjar hormon ini memproduksi hormon yaitu zat khusus yang merupakan persenyawaan kimia hasil produksi kelenjar tubuh yang berfungsi mengatur berbagai proses kimia jaringan organ tubuh. Di antara sekian banyak kelenjar di dalam tubuh manusia, ada tujuh yang utama, yaitu sebagai berikut:
a. .Kelenjar pituitary, disebut juga kelenjar
hipofise atau kelenjar lendir. Fungsi kelenjar ini adalah: mengatur kegiatan
kelenjar tiroid; mengatur sekresi dari kelenjar adrenal; mengatur sekresi
kelenjar pembiakan; mengatur pertumbuhan tubuh pada umumnya; mengatur jumlah
air yang dibunagn ginjal; merangsang produksi susu ibu, dan merangsang
kontraksi rahim pada waktu melahirkan.
b. Kelenjar tiroid, berfungsi sebagai berikut: Mengatur kecepatan dalam
mengubah makanan jadi panas dan tenaga di dalam sel; Membantu pertumbuhan agar
normal dan melancarkan kerja susunan saraf. Kelenjar ini terletak di bagian
leher;
c. Kelenjar paratiroid, yang berfungsi merangsang pengeluaran kalsium
dari dalam tulang dan mengatur kadar kalsium di dalam darah. Kelenjar ini juga
terletak di bagian leher;
d. Kelenjar adrenal, berfungsi: memperkuat hasil tanggapan susunan
saraf terhadap perangsangan takut , marah atau gembira; Melawan rasa tertekan
dan kegoncangan jiwa; Mengatu kesimbangan garam dan air dalam darah. Kelenjar
ini terdapat di atas anak ginjal yang peranannya sebagai komandan pada komando
strategi di dalam kerajaan tubuh. Karena itu, hubungannya sangat erat dengan
panglima tertinggi kelenjar pituitary.
e. Kelenjar pankreas, berfungsi: mengatur penggunaan glukosa dalam
tubuh; menghasilkan enzim-enzim pencernaan. Kelenjar ini terdapat pada bagian
kanan belakang lambung.
f. Kelenjar limfoid (getah bening), berfungsi dalam:
Menghasilkan antibodi (protein pembunuh) yang menolong mengatasi kuman, jamur,
dan parasit lain agar tidak menimbulkan infeksi; Mempercepat proses
penyembuhan.Kelenjar ini tersebar di berbagai bagian tubuh yang merupakan
angkatan bersenjata yang senantiasa siap siaga dalam mempertahankan kondisi
tubuh agar tetap prima.
g. Kelenjar kelamin (seks), berfungsi dalam: Mengatur perkembangan masa
akil baligh; Menghentikan perkembangan tulang yang memanjang; Mempersiapkan
rahim untuk kehamilan; Membentuk sel-sel kelamin.
Semua kelenjar tersebut di atas dapat bertugas
menjalankan fungsinya masing-masing dengan cara mengeluarkan hormon-hormon.
Misalnya ketika anda dalam keadaan takut, yang menstabilkan perasaan takut
oranda itu adalah kelenjar andrenal. Kelenjar ini mengeluarkan hormon
andrenalin sehingga anda dapat berlari kencang untuk menghindari kejaran
anjing.
Sehingga, dalam pandangan biologi, sehat atau sakitnya
manusia disebabkan oleh harmonis atau tidaknya hormon-hormon yang dipengaruhi oleh
fungsi kelenjar-kelenjar. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya, hendaklah
menjaga kesehatan sebelum sakit, memelihara hidup sebelum kematian datang.[12]
. Sudut Pandang Psikologi
tentang kesehatan
Sejak lama para ahli psikologi menduga bahwa di dalam
jiwa manusia itu terdapat perasaan, kemauan, dan akal pikiran. Heymans
mengistilahkan dengan emosionalitas, aktifitas dan fungsi skunder.
Emosionalitas bersumber dari hati, sedangkan aktifitas bersumber dari hawa
nafsu. Keduanya merupakan inti jiwa. Adapun akal merupakan kulit jiwa; karena
itu, ia disebut fungsi skunder. Muatan kekuatan ketiga macam potensi kejiwaan
ini tidak sama.
Karena itulah, menurut Heymans, ada delapan sifat dasar
manusia: Tipe amorf, adalah orang yang kurang daya pikirannya, picik, pembeo,
dan kaku dalam pergaulan. Tipe sanguinis, adalah orang yang bersikap
kekanak-kanakan namun cekatan dan berani (karena kemauannya positif). Tipe
flegmatis, adalah orang yang bersikap tenang, dapat menguasai emosi, bijaksana serta
optimis (karena kemauan dan akalnya posisitf). Tipe apatis, adalah tipe manusia
robot, sukar bergaul dan suka menyendiri tetapi pikirannya tajam (hanya akalnya
yang aktif). Tipe nerves, adalah orang yang sangat dipengaruhi emosi, jiwanya
sukar diduga, berpikir dangkal dan tidak sabar (hanya emosi yang berkuasa).
Tipe koleris, adalah orang yang punya aktivitas tinggi, lincah, sangat perasa
tetapi agak tumpul pikirannya (perasaan dan kemauan positif). Tipe gepassioner,
adalah orang yang stabil antara emosi, kemauan, dan akalnya, berwatak garang,
pemberani, perasa, pengkritik, tidak sabaran, suka curiga tetapi tekun dan ulet
dalam bekerja. Tipe sintimental, adalah orang yang perayu, rapuh, mudah
tersinggung, pencinta alam dan seni tetapi kurang ulet (karena kemauannya
kurang kuat).
Dari kedelapan tipe ini, kita dapat melihat tipe 5,
nerves adalah orang yang sangat dipengaruhi oleh emosi yang jiwanya sukar
diduga, berpikiran dangkal. Orang seperti inilah yang mudah terkena goncangan
jiwa. Mereka selalu mendengarkan suara hati tanpa pertimbangan akal sehingga
kesadarannya dapat dikalahkan oleh kekuatan bawah sadarnya.
[13]Dalam kehidupan modern ini sering muncul tingkah
laku yang tidak wajar, seperti tindakan kriminal, manipulasi, korupsi,
kejahatan seksual dan perbuatan penyimpangan sosial lainnya diakibatkan oleh
persaingan hidup yang sedemikian ketat. Hal ini menimbulkan banyak kegelisahan,
keresahan, ketakutan, dan ketegangan batin pada manusia. Akibatnya, tidak
sedikit orang yang menderita ketegangan syaraf dan mengalami stres[14], yang
meledak menjadi simpton penyakit mental. Jadi ketegangan serta ketakutan yang
dialami manusia menjadi persemaian yang subur sekali bagi timbulnya bermacam-macam
penyakit mental.
Apabila jiwa terguncang, pikiran menjadi tidak setabil,
akibatnya mempengaruhi fisik manusia dan dapat menimbulkan penyakit yang
disebut psikosomatik. Penderita psikosomatik bukan hanya membutuhkan terapi
medis atau terapi fisik semata, tetapi juga membutuhkan terapi sufistik dengan
salah satu metodenya, yaitu tobat.Uraian ini bertolak dari pemikiran bahwa
sumber penyakit psikosomatik dapat disebabkan oleh konflik-konflik psikis atau
dapat juga disebabkan oleh gangguan yang sifatnya organis.
Untuk memahami penyebabnya itu, kita harus melihat semua
aspek yang mempengaruhi timbulnya gangguan psikosomatik. Diantaranya adalah
aspek bio-psikososio dan spiritual. Apabila penyebabnya berasal dari aspek
spiritual, seperti perasaan dosa, cara untuk menghilangkan keresahan jiwa
tersebut adalah dengan bertobat, sebab tobat dapat membersihkan dan menjadikan
terapi bagi jiwa yang sakit.[15] Karena memang kesehatan jasmani sangat bisa
dipengaruhi oleh kesehatan mental. Untuk mengetahui lebih jauh terhadap
hubungan antara kesehatan jasmani dengan mental, kita harus terlebih dahulu
mengerti apa itu kesehatan mental. Kesehatan mental (mental hygiene) adalah
ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta
prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat
mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa
tenang, aman, dan tenteram.
Menurut H. C. Witherington, permasalahan kesehatan
mental menyengkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam
lapangan psikologi, kedokteran, psikitari, biologi, sosiologi dan agama.[16]
Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabanan). Dimaksudkan
dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang
erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal
seperti susah, cemas, gelisah, dan sebagainya, maka badan turut menderita.[17]
Dalam sebuah ungkapan hadits Nabi dinyatakan, bahwa kesehatan mental yang
dukung oleh kualitas kesehatan tubuh kita akan meningkatkan kesalehan ritual
dan sosial: Akal (mental) yang sehat itu tergantung dari tubuh yang sehat
(Al-Hadits) Beberapa temuan di bidang kedokteran dijumpai sejumlah kasus yang
membuktikan adanya hubungan tersebut, jiwa (psyche) dan badan (soma). Orang
yang merasa takut, langsung kehilangan nafsu makan, atau buang-buang air. Atau
dalam keadaan kesal dan jengkel, perut seseorang terasa menjadi kembung. Dan
istilah “makan hati berulam jantung” merupakan cerminan tentang adanya hubungan
antara jiwa dan badan sebagai hubungan timbal balik, jiwa sehat badan segar dan
badan sehat jiwa normal.[18]
D. Sudut Pandang Tasawuf
Sehat dan sakit dalam pandangan tasawuf memiliki titik
singgung dengan pandangan menurut psikologi karena terkait dengan kejiwaan
(mental). Namun dalam pandangan tasawuf, kejiwaan manusia memiliki cakupan yang
lebih luas. Dalam pandangan tasawuf, jiwa manusia mencakup unsur-unsur roh,
akal, nafs, dan qalb. Dalam pandangan tasawuf, roh itu bagaikan lampu,
sedangkan kehidupan laksana cahaya. Gerakan roh dan penyebarannya ke seluruh
tubuh bagaikan gerakan lampu di dalam rumah. Inilah yang dimaksudkan dengan
“roh” oleh para dokter. Akan tetapi, para dokter yang ingin membimbing roh
menuju wilayah suci tidak menerima makna ini. Arti kedua dari makna roh adalah
latifatul mudrikah atau sebuah organ pengetahuan. Inilah yang disebut Alquran
dalam QS: Al-Isra/17: 85) yang artinya: “katakanlah bahwa roh itu urusan
Tuhan”.
Karena terkait dengan aspek kejiwaan (roh, akal, nafs
dan qalb), sehat dan sakit dalam pandangan tasawuf kita bisa kaitkan antara kesehatan
jiwa[19] dengan aspek agama. Dr. Muhammad Mahmud Abdul Qadir telah membahas
hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui pendekatan teori biokimia.
Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang
memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai pengaruh biokimia
tertentu, disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh
kepada eksistensi dan berbagai kegiatan tubuh. Persenyawa-persenyawaan itu
disebut hormon.
Lebih jauh Muhammad Mahmud Abdul Qadir
berkesimpulan bahwa segala bentuk gejala emosi seperti bahagian, rasa dendam,
rasa marah, takut, berani, pengecut yang ada dalam diri manusia adalah akibat
dari pengaruh persenyawaan-persenyawaan kimia hormon, di samping persenyawaan
lainnya. Tetapi dalam kenyataannya, kehidupan akal dan
emosi manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, selalu
terjadi perubahan-perubahan kecil produksi hormon-hormon yang merupakan unsur
dasar dari keharmonisan kesadaran dan rasa hati manusia, tepatnya perasaannya.
Tetapi, jika terjadi perubahan yang terlampau lama, seperti panik, takut, dan sedih yang berlangsung lama, akan timbul perubahan-perubahan kimia lain yang akan mengakibatkan penyakit syaraf yang bersifat kejiwaan. Hubungan penderita dengan dunia luar terputus, akalnya tertutupi oleh waham dan khayal yang membawanya jauh dari kenyataan hidup normal. Penderitaan selalu hidup dalam keadaan cemas dan murung, kebahagiaan hilang, penuh keraguan, takut, rasa berdosa, dengki, dan rasa bersalah.Timbulnya penyakit emosi seperti itu akibat dari kegoncangan dan hilangnya keseimbangan kimia tubuh seseorang.
Tetapi, jika terjadi perubahan yang terlampau lama, seperti panik, takut, dan sedih yang berlangsung lama, akan timbul perubahan-perubahan kimia lain yang akan mengakibatkan penyakit syaraf yang bersifat kejiwaan. Hubungan penderita dengan dunia luar terputus, akalnya tertutupi oleh waham dan khayal yang membawanya jauh dari kenyataan hidup normal. Penderitaan selalu hidup dalam keadaan cemas dan murung, kebahagiaan hilang, penuh keraguan, takut, rasa berdosa, dengki, dan rasa bersalah.Timbulnya penyakit emosi seperti itu akibat dari kegoncangan dan hilangnya keseimbangan kimia tubuh seseorang.
Jika seseorang berada dalam keadaan normal, seimbang
hormon dan kimiawinya, maka ia akan selalu berada dalam keadaan aman. Perubahan
yang terjadi dalam kejiawaan itu disebut oleh Abdul Qadir sebagai spektrum
hidup. Dan pergeseran arah ke kiri atau ke kanan dari pusat bila terjadi
perubahan dalam proses pemikiran, akan terjadi perubahan kimia dan biologi
tubuh. Dan besar kecilnya perubahan itu tergantung dari kemampuan manusia untuk
menanggapi pengaruh itu. Kalau terjadi keseimbangan, maka akan kembali menjadi
normal. Adapun terjhadinya pergeseran dari kondisi normal ke daerah yang
berbahaya itu, menurut Abdul Qadir sangat tergantung dari derajat keimanan yang
tersimpan di dalam diri manusia, disamping faktor susunan tubuh serta dalam
atau dangkalnya rasa dan kesadaran manusia itu. (Muhammad Mahmud Abdul
al-Qadir, 1979).
Penemuan Muhammad Mahmud Abdul Qadir,
seorang ulama dan ahli biokimia ini, setidak-tidaknya memberi bukti akan adanya
hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan jiwa.
Barangkali hubungan antara kejiwaan
dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan
kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatau
kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah yang serupa
itu diduga akan memberi sikap optimistis pada diri seseorang sehingga muncul
perasaan positif seperti bahagian, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai
atau rasa aman. Sikap emosi yang demikian merupakan bagian dari kebutuhan asasi
manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka, dalam kondisi yang serupa itu,
manusia berada dalam keadaan tenang dan nromal, yang oleh Abdul Qadir
disebutnya berada dalam keseimbangan persenyawaan kimia dan hormon tubuh.
Dengan kata lain, kondisi yang demikian menjadi manusia pada kondisi
kodratinya, sesuai dengan fitrah kejadiannya, sehat jasmani dan ruhani.
Agaknya cukup logis kalau setiap ajaran agama mewajibkan
penganutnya untuk melaksanakan ajarannya secara rutin. Bentuk dan pelaksanaan
ibadah agama, paling tidak akan ikut berpengaruh dalam menanamkan rasa sukses
sebagai pengabdi Tuhan yang setia. Tindak ibadah setidak-tidaknya akan memberi
rasa bahwa hidup menjadi lebih bermakna. Dan manusia sebagai makhluk yang
memiliki kesatuan jasmani dan ruhani secara tak terpisahkan memerlukan
perlakukan yang dapat memuaskan keduanya.[20]
Dari aspek pembinaan manusia agar memiliki mental yang
utuh disinilah peran agama menemui urgensinya atas sehat tidaknya mental
seseorang. Karena agama adalah sumber dari segala sumber nilai dan norma yang
memberi petunjuk, mengilhami dan mengikat masyarakat yang bermoral. Salah satu
cara untuk menemukan fungsi agama adalah jalan tasawuf yang memiliki tujuan
agar bagaimana manusia dapat mengerti makna hidup, mengerti akan posisi diri
sebagai hamba dan dekat dengan Tuhannya yang Maha Kuasa. Sehingga penyeimbangan
antara kebutuhan jasmani yang kasar dan kebutuhan ruhani (kejiwaan) yang sangat
halus dapat dipenuhi dengan baik. Dengan jalan spirit tasawuf, suasana kejiwaan
manusia dapat dikendalikan dengan baik setelah melalui proses-proses riyadhah
(olah spirit), sehingga dapat terhindar dari sakit kejiwaan yang berakibat
langsung terhadap sakitnya jasmani. Dan yang perlu diingat adalah bahwa
spiritualitas (kedalaman ruhaniah) manusia sangat berhubungan dengan hati
(qalb) karena hati merupakan inti dari segala aktifitas jiwa. Jika hati
seseorang sakit, menjadi sakitlah aktivitas kerohaniahannya. Dan hati adalah
obyek dari ajaran tasawuf.
Hati yang sakit berati mentalnya pun sakit. Mental yang
sakit ini akan mempengaruhi seluruh aktifitas manusia. Oleh karena itu, banyak
ahli mencoba merumuskan pendekatan-pendekatan dalam upaya menemukan pengobatan
mental manusia yang sedang terkena penyakit. Disinilah kemudian berkembang
psikoterapi.
Jadi, dalam pandangan tasawuf, sehat dan sakit merupakan gambaran kejiwaan seseorang. Jiwa yang sakit akan menampakkan gejala fisiknya yang lesu, lemah, tanpa semangat yang dapat diatasi dengan pendekatan tasawuf. Sebaliknya, jiwa yang sehat akan terlihat kondisi fisiknya yang energik, bertenaga dan bebas dari <penyakit
Jadi, dalam pandangan tasawuf, sehat dan sakit merupakan gambaran kejiwaan seseorang. Jiwa yang sakit akan menampakkan gejala fisiknya yang lesu, lemah, tanpa semangat yang dapat diatasi dengan pendekatan tasawuf. Sebaliknya, jiwa yang sehat akan terlihat kondisi fisiknya yang energik, bertenaga dan bebas dari <penyakit