Oleh : Muhammad Anis
(Dosen dan Kandidat Doktor UIN Jakarta)
kita mendengar perkataan orang-orang tua kita saat melihat
kupu-kupu yang masuk ke rumah, bahwa akan ada tamu yang datang. Atau ketika
melihat burung gagak yang terbang berputar-putar di atas daerah tertentu, bahwa
saat itu terdapat atau akan terjadi orang meninggal dunia di daerah tersebut.
Sebagian orang menganggap hal ini
sebagai mitos, bahkan tak jarang yang menganggapnya tahyul (khurafat) yang
mesti dijauhi karena bisa menyesatkan. Namun,
semestinya tidak perlu terburu-buru untuk memberikan kesimpulan seperti itu
pada riwayat-riwayat tersebut. Karena, sangat mungkin hal itu merupakan bagian
dari tanda-tanda alam yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia.
Sains membuktikan bahwa hewan memiliki keunikan tertentu
yang tak dimiliki manusia. Sebagai contoh Kelelawar, yang mampu memancarkan
gelombang ultrasonik dari mulutnya, yang bisa memantul balik bila mengenai
benda di depannya dan dapat ditangkap kembali oleh telinganya, sehingga dia
dapat terbang cepat dan aman di gelap gulita malam. Demikian pula Gurita, yang
mampu berkamuflase dengan mengubah bentuk dan warna tubuhnya sesuai dengan
bentuk dan warna lingkungan di sekitarnya.
Bahkan hewan juga memiliki insting (kepekaan) yang
melebihi manusia. Sebagai contoh Laba-laba, yang memiliki kemampuan merasakan
dan menentukan arah getaran yang sangat lembut pada jaring-jaringnya. Elang,
dengan ketajaman matanya yang mampu menangkap gerakan ikan dalam air dari
ketinggian di udara sembari terbang. Bahkan pernah diberitakan tentang
kemampuan Anjing dalam melakukan deteksi dini terhadap gejala penyakit kanker
seseorang, dengan hanya mengendus urine orang tersebut.
Tak hanya itu, keandalan insting hewan ini bahkan
terbukti pula pada musibah tsunami yang telah memporak-porandakan Aceh dan
Sumut. Seorang pakar margasatwa Sri Lanka, H.D. Ratnayake, meyakini hal ini
setelah mengetahui bahwa tidak ditemukan bangkai hewan liar pasca tsunami
gigantik di Samudera Hindia tersebut. Padahal dalam bencana ini, puluhan ribu
orang tewas di sekitar pesisir pantai Laut India. Ia mengatakan bahwa
hewan-hewan memiliki indera keenam dan bisa mendeteksi keberadaan gempa yang
disusul gelombang tsunami, sehingga mereka berhasil menyelamatkan diri hanya
beberapa saat sebelum terjadinya bencana.
Sebagaimana yang juga diberitakan,
Taman Nasional Binatang Liar Yala adalah cagar satwa liar terbesar di Sri
Lanka, di mana di dalamnya terdapat gajah, rusa, srigala, buaya, dan
binatang-binatang lainnya. Ketika tsunami terjadi, air
laut naik dan menggenangi tanah di darat hingga sejauh 3,5 kilometer serta
menghancurkan bangunan-bangunan di taman. Banyak wisatawan dan pegawai taman
yang tewas ditelan gelombang. Namun, di luar dugaan, berbagai jenis binatang
liar di taman itu dapat lolos dari bencana tersebut.
Pakar hewan lainnya, Clive Walker, yang telah menulis
beberapa buku tentang kehidupan satwa liar di Afrika, juga memercayai adanya
indera keenam atau insting tajam pada hewan. Ia berkata, “Satwa liar tampaknya
bisa mengetahui fenomena yang akan terjadi, terutama burung-burung. Banyak
laporan yang menyatakan bahwa burung-burung berhasil mendeteksi bencana alam
yang akan terjadi.”
Demikian pula dengan pengurus Cagar Harimau Liar di
Pulau Sumatera, Debby Melt, yang berpendapat bahwa hewan liar sangat peka
terhadap bencana alam. Indera dengar binatang sangat peka. Mereka sangat
mungkin lebih dulu merasakan akan terjadinya tsunami. Selain itu, getaran yang
ditimbulkan oleh tsunami dapat mengakibatkan perubahan tekanan udara, sedangkan
perubahan tekanan udara bisa memberikan peringatan dini, dan mengingatkan
binatang untuk pindah ke tempat yang aman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar