Bahrul Hayat, Ph. D. (Sekretaris Jenderal Kemenag RI)
Secara psikologis, pembentukan konsepsi takwa melalui
ibadah puasa secara lebih operasional dapat diartikan sebagai pembentukan watak
atau karakter yang memiliki kecerdasan ketangguhan (adversity intelligence),
kecerdasan emosional (emotional intelligence), dan kecerdasan sosial (social
intelligence) yang menjadi ukuran dari kualitas diri seseorang.
Pertama, kecerdasan adversity, yaitu kondisi psikologis
seseorang yang mampu menghadapi berbagai kesulitan dan cobaan hidup yang
dialaminya. Melalui ibadah puasa, seseorang sedang membangun kecerdasan
ketangguhan melalui kemampuannya menahan lapar dan haus, serta berbagai godaan
nafsu lainnya. Pada tahapan ini, dia merupakan individu yang memiliki kemampuan
untuk bertahan dan terus berjuang dengan gigih ketika dihadapkan pada suatu
problematika hidup, penuh motivasi, antusiasme, dorongan, ambisi, semangat,
serta kegigihan yang tinggi. Individu ini dipandang sebagai figur yang memiliki
kecerdasan adversity yang tinggi.
Kedua, kecerdasan emosional, yaitu kondisi psikologis
seseorang untuk dapat menyadari dirinya (self-awareness) dan mengelola dirinya
(self-management) secara produtif. Dengan berpuasa seseorang dilatih batin dan
ruhaninya untuk peka dan sensitif terhadap dirinya sendiri dan sekaligus
mengelola batinnya sehingga kalbunya memancarkan radar untuk dapat melihat dan
membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mana yang bermanfaat dan
yang merusak bagi dirinya. Sebagaimana dikatakan Antoine De Saint-Exupery dalam
The Little Prince ” It is with the heart that one sees rightly; what is essential
is invisible to the eye.
Ketiga, kecerdasan sosial, yaitu kecerdasan yang
terbentuk ketika hendak membangun sebuah relasi yang produktif dan harmonis.
Selain dapat membangkitkan solidaritas sosial, hikmah ibadah puasa dapat
meningkatkan kualitas relasi dengan sesama, seperti kerabat, tetangga, rekan
kerja atau atasan. Relasi ini sangat mungkin berjalan dengan baik jika
seseorang mampu mendemonstrasikan sejumlah elemen penting dalam kecerdasan
sosial.
Terdapat lima elemen kunci kecerdasan sosial, yaitu:
pertama, situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran
ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta
hak orang lain. Contoh, orang yang merokok di ruang ber-AC tanpa merasa
bersalah adalah orang yang tidak memiliki kesadaran situasional.
Kedua, presense atau kemampuan membawa diri. Bagaimana
etika penampilan, tutur kata, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah
sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan
meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya.
Ketiga, authenticity (autensitas) atau sinyal dari
perilaku seseorang yang akan membuat orang lain menilainya sebagai orang yang
layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan ketulusan.
Elemen ini amat penting, sebab hanya dengan aspek inilah seseorang dapat
membentangkan relasi yang mulia dan bermartabat.
Keempat, clarity (kejelasan). Aspek ini menjelaskan
sejauh mana seseorang dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan idenya
secara renyah dan persuasif, sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan
terbuka. Sering seseorang memiliki gagasan yang baik, namun gagal
mengkomunikasikannya secara lebih tepat, sehingga atasan atau rekan kerja tidak
berhasil diyakinkan.
Kelima, empathy (atau empati). Aspek ini merujuk pada
sejauh mana seseorang dapat berempati pada gagasan dan penderitaan orang lain.
Sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan, memahami
pemikiran orang lain, dan melakukan aksi nyata untuk meringankan penderitaan
orang lain. Perasaan lapar dan haus dapat ditindaklanjuti dengan semangat
kedermawanan melalui zakat, infak, sedekah dan ibadah sosial lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar